Hukum Sholat Fardhu Berjamaah untuk Kedua kalinya Setelah Jamaah
29 Oktober 2026 · 4 menit baca
Pertanyaan:
Afwan, Ustadz. Mohon penjelasan mengenai dalil yang shohih tentang pelaksanaan Sholat fardhu berjamaah untuk kedua kalinya setelah Sholat fardhu berjamaah yang pertama selesai dilaksanakan.
Praktik ini sering dilakukan ketika ada jamaah yang terlambat datang sehingga tidak sempat mengikuti Sholat berjamaah yang pertama.
Apakah praktik tersebut disyariatkan dan memiliki dalil yang sahih dari Al-Qur’an dan As-Sunnah? Jazakumullahu khairan.
dari Hamba Allah (Usia: 59 tahun)
Jawaban:
JAWABAN
Hukum Sholat Fardhu Berjamaah untuk Kedua Kalinya Setelah Jamaah Pertama Selesai
Ibnu Qudamah (620 H) berkata:
“Tidak dimakruhkan mengulangi Sholat berjamaah di Masjid. Maksudnya, apabila imam tetap suatu kampung telah melaksanakan Sholat, kemudian datang kelompok lain, maka disunnahkan bagi mereka untuk melaksanakan Sholat berjamaah. Ini merupakan pendapat Ibnu Mas‘ud, ‘Atho’, Al-Hasan, An-Nakho‘i, Qotadah, dan Ishaq.
Adapun Salim, Abu Qilabah, Ayyub, Ibnu ‘Aun, Al-Laits, Al-Batti, Ats-Tsauri, Malik, Abu Hanifah, Al-Auza‘i, dan Asy-Syafi‘i berpendapat bahwa Sholat berjamaah tidak diulangi di Masjid yang memiliki imam tetap, selain Masjid yang menjadi tempat lalu-lalang orang (seperti Musholla terminal).
Barang siapa tertinggal dari Sholat berjamaah, hendaknya ia Sholat sendirian. Hal ini agar tidak berujung pada perpecahan hati, permusuhan, dan sikap meremehkan Sholat bersama imam. Selain itu, karena Masjid tersebut memiliki imam tetap, maka mengulangi Sholat berjamaah di dalamnya dihukumi makruh, sebagaimana di Masjid Nabi ﷺ.” (Al-Mughni karya Ibnu Qudamah, cetakan Maktabah Al-Qohiroh, jilid 2, halaman 133)
Berikut penjarabannya:
1. Dalil utama dari As-Sunnah
Dari Abu Sa‘id Al-Khudri رضي الله عنه, bahwasanya Rosulullah ﷺ melihat seseorang Sholat sendirian, lalu beliau bersabda:
«أَلَا رَجُلٌ يَتَصَدَّقُ عَلَى هَذَا فَيُصَلِّيَ مَعَهُ»
“Adakah seseorang yang mau bersedekah kepada orang ini dengan cara Sholat bersamanya?” (HSR. Abu Dawud, no. 574)
Kemudian seseorang berdiri dan Sholat bersamanya.
Hadits ini merupakan dalil utama tentang bolehnya Sholat berjamaah setelah jamaah pertama selesai. Rosulullah ﷺ menganjurkan seseorang untuk menemani orang yang tertinggal dari jamaah agar ia memperoleh keutamaan Sholat berjamaah.
Berdasarkan hadits ini, Syaikh Abdul Aziz bin Baz رحمه الله membolehkan orang-orang yang terlambat mendirikan jamaah kedua di Masjid. (Majmu‘ Fatawa wa Maqilat Mutanawwi‘ah, 12/171)
2. Dalil tentang keutamaan Sholat berjamaah
Rosulullah ﷺ bersabda:
«صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً».
“Sholat berjamaah lebih utama daripada Sholat sendirian dengan selisih dua puluh tujuh derajat.” (HR. Al-Bukhori, no. 645; Muslim, no. 650)
Hadits ini menunjukkan keutamaan Sholat berjamaah secara umum. Adapun dalil yang secara langsung berkaitan dengan jamaah kedua adalah hadits Abu Sa‘id Al-Khudri رضي الله عنه di atas.
3. Pendapat para ulama
1. Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله
Ibnu Qudamah رحمه الله menjelaskan:
«وَلَا يُكْرَهُ إِعَادَةُ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ».
“Tidak dimakruhkan mengulangi Sholat berjamaah di Masjid.” (Al-Mughni, Ibnu Qudamah, 2/133)
Beliau menjelaskan bahwa apabila imam tetap telah selesai Sholat, kemudian datang sekelompok orang yang tertinggal, mereka boleh melaksanakan Sholat berjamaah.
2. Imam Ibnu Al-Mundzir رحمه الله
Ibnu Al-Mundzir menyebutkan bahwa jamaah kedua diriwayatkan dari Anas bin Malik رضي الله عنه dan Ibnu Mas‘ud رضي الله عنهما, serta menjadi pendapat sejumlah ulama Salaf. (Al-Awsath, Ibnu Al-Mundzir, 4/248)
3. Syaikh Abdul Aziz bin Baz رحمه الله
Beliau membolehkan orang-orang yang terlambat mendirikan jamaah kedua setelah mendapati imam telah selesai Sholat. Beliau berdalil dengan hadits Abu Sa‘id Al-Khudri رضي الله عنه. (Majmu‘ Fatawa wa Maqolat Mutanawwi‘ah, 12/171)
4. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin رحمه الله
Beliau membolehkan jamaah kedua apabila terjadi karena keadaan yang tidak disengaja, seperti sekelompok orang datang ketika jamaah pertama telah selesai. Namun, beliau membedakannya dari jamaah kedua yang sengaja dijadikan kebiasaan.
Rujukan: Asy-Syarh Al-Mumti‘ ‘ala Zad Al-Mustaqni‘, pembahasan Sholat berjamaah dan pengulangannya.
Ulama yang memakruhkan jamaah kedua dalam kondisi tertentu:
Jumhur ulama dari kalangan Hanafiyah, Malikiyah, dan Syafi‘iyah memakruhkan pengulangan jamaah dalam kondisi tertentu, khususnya di Masjid yang mempunyai imam tetap dan jamaah rutin.
Di antara alasannya adalah kekhawatiran bahwa jamaah kedua akan menyebabkan orang meremehkan jamaah pertama atau menimbulkan perpecahan di Masjid.
Perlu dipahami bahwa pemakruhan tersebut berkaitan dengan kondisi dan dampak pengulangan jamaah, bukan berarti semua bentuk Sholat berjamaah setelah jamaah pertama selesai dilarang.
4. Kesimpulan
Berdasarkan dalil dan pendapat para ulama di atas:
Jamaah kedua memiliki dasar dari Sunnah Nabi ﷺ, terutama hadits Abu Sa‘id Al-Khudri رضي الله عنه dalam Sunan Abu Dawud.
Menurut pendapat Imam Ahmad, Ibnu Al-Mundzir, Syaikh Ibnu Baz, dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin رحمهما الله, orang-orang yang terlambat boleh mendirikan jamaah kedua.
Jika seseorang telah Sholat, ia juga boleh menemani orang yang belum Sholat berdasarkan hadits tersebut, dengan memperhatikan ketentuan fikih yang berlaku.
Jamaah kedua yang terjadi karena kebutuhan harus dibedakan dari kebiasaan sengaja meninggalkan jamaah pertama.
Orang yang mampu menghadiri jamaah pertama hendaknya berusaha datang tepat waktu dan tidak menjadikan jamaah kedua sebagai alasan untuk bermalas-malasan.
Kesimpulan yang lebih kuat berdasarkan dalil yang dibahas: orang-orang yang terlambat dan mendapati jamaah pertama telah selesai boleh mendirikan jamaah kedua, selama tidak sengaja menjadikannya sarana untuk meninggalkan jamaah utama atau menimbulkan perpecahan.
Wallahu a‘lam bish-showab.
Dijawab oleh Ustadz Nor Kandir, MA
Mahasiswa S3 Islamic University of Minnesota
