← Kembali ke artikel
Fiqih Keluarga, Pertanyaan Pembaca

Apakah di Surga Bisa Berkumpul dengan Orang Tua Asuh?

23 Oktober 2026 · 7 menit baca

Afwan, Ustadz. Ada seorang perempuan yang baru mengetahui setelah masa pandemi Covid-19, ketika usianya sudah lebih dari 40 tahun, bahwa dirinya lahir dari hubungan zina kedua orang tuanya.

Ketika mengetahui kenyataan bahwa dirinya merupakan anak yang lahir di luar pernikahan yang sah, ia merasa sangat sedih, terpukul, dan hancur hatinya. Selama ini, sosok yang paling menyayangi, memperhatikan, dan mengajarkan kebaikan kepadanya sejak kecil adalah Abahnya (ayah angkatnya), bukan ibunya.

Ia mengaku tidak banyak merasakan kasih sayang dari ibunya sejak kecil. Bahkan, menurut pengalamannya, perlakuan ibunya sering kali sangat menyakitkan. Ia juga mengetahui bahwa ketika masih berada di dalam kandungan, ibunya berkali-kali berusaha menggugurkan atau menghilangkan nyawanya. Namun, alhamdulillah, dengan rohmat dan perlindungan Alloh, ia tetap lahir dalam keadaan selamat tanpa cacat. Hingga ibunya berusia lebih dari 60 tahun, menurut penuturannya, perlakuan yang menyakitkan tersebut masih terus ia rasakan.

Adapun Abahnya merupakan sosok yang selalu memberikan perhatian, mengajarkan kebaikan, serta membimbingnya untuk melakukan amal sholih sejak kecil. Setelah Abahnya meninggal dunia, perempuan tersebut justru semakin terdorong untuk berhijroh secara menyeluruh dan berusaha menjalankan syariat Islam dengan sebaik-baiknya. Salah satu motivasi terbesarnya adalah keinginan untuk terus beramal sholih dan menghadiahkan pahala bagi Abahnya, sebagai bentuk bakti dan rasa cintanya kepada sosok yang selama ini sangat berjasa dalam kehidupannya.

Namun, setelah mengetahui bahwa dirinya lahir dari hubungan zina dan memahami ketentuan syariat mengenai nasab anak yang lahir di luar pernikahan yang sah, ia merasa sangat terpukul. Ia khawatir tidak dapat berkumpul kembali dengan Abahnya kelak di Surga karena hubungan nasabnya yang sebenarnya.

Pertanyaan yang ingin diajukan kepada Ustadz:

  1. Apakah perempuan tersebut tetap memiliki harapan untuk dikumpulkan kembali bersama Abahnya di Surga kelak, meskipun menurut ketentuan syariat ia merupakan anak yang lahir dari hubungan zina dan nasabnya tidak dinisbatkan kepada laki-laki tersebut?

  2. Apakah kasih sayang, perhatian, pendidikan, dan bimbingan amal sholih yang diberikan Abahnya sejak kecil tetap memiliki nilai kebaikan di sisi Alloh, meskipun terdapat persoalan nasab di antara keduanya?

  3. Setelah Abahnya meninggal dunia, amal-amal apa saja yang dapat dilakukan perempuan tersebut agar menjadi sebab datangnya manfaat dan pahala bagi Abahnya, sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah?

  4. Bagaimana nasihat Ustadz kepada perempuan tersebut agar ia dapat menerima kenyataan masa lalunya dengan lapang dada, tidak terus-menerus larut dalam kesedihan, dan tetap memiliki harapan besar terhadap rohmat Alloh serta kesempatan untuk berkumpul bersama orang-orang yang dicintainya di Surga?

Perempuan tersebut sangat mencintai Abahnya dan merasa bahwa Abahnyalah sosok yang selama ini mengajarkannya kebaikan. Keinginannya untuk berhijroh dan memperbaiki diri semakin kuat setelah kepergian Abahnya, karena ia berharap dapat menjadi anak yang sholihah dan terus memberikan manfaat bagi Abahnya melalui amal-amal yang disyariatkan.

Mohon bimbingan dan penjelasan Ustadz berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah, serta penjelasan para ulama Ahlus Sunnah, agar perempuan tersebut memperoleh pemahaman yang benar dan tidak berputus asa dari rohmat Alloh.

Jazakumullohu khoiron, Ustadz.

Barokallohu fiikum.

JAWAB

Segala puji bagi Alloh ﷻ Robb semesta alam, sholawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para Shohabat, dan siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari Kiamat. Pertanyaan dari seorang saudari hamba Alloh di Surabaya ini menyentuh hati dan sarat akan persoalan pelik seputar takdir, nasab, bakti, dan rohmat Alloh ﷻ.

[1] Mengenai Nasab Anak Zina

Secara fiqih, anak tersebut tidak dinisbatkan kepada ayah biologisnya dalam hal nasab, perwalian nikah, maupun warisan. Meskipun demikian, perlu dipahami dengan sangat terang bahwa status nasab tersebut tidak sedikit pun mengurangi kemuliaan jiwa seseorang di sisi Alloh ﷻ apabila ia beriman dan beramal sholih. Seseorang tidak menanggung dosa atau kesalahan yang diperbuat oleh orang tuanya. Alloh ﷻ berfirman:

﴿وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ﴾

“Dan seseorang tidak memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Robb kamulah kembalimu, lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Al-An’am: 164)

Anak-anak zina tidak memikul dosa orang lain, dan setiap diri terikat dengan apa yang dikerjakannya, barangsiapa yang mengerjakan amal sholih maka untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat kejahatan maka atas dirinya sendiri.

[2] Kemuliaan Iman dan Amal Sholih Melampaui Batas Nasab

Harapan untuk berkumpul bersama orang-orang yang dicintai di Jannah tidak ditentukan oleh garis keturunan semata, melainkan oleh keimanan dan ketakwaan kepada Alloh ﷻ. Banyak kisah dalam Al-Qur’an yang menunjukkan bahwa hubungan nasab biologis tidak menjamin keselamatan jika tidak disertai iman, seperti anak Nabi Nuh ‘alaihis salam yang tenggelam karena kekafirannya. Sebaliknya, ikatan iman dan ketakwaan jauh lebih kuat dalam menyatukan hamba-hamba Alloh ﷻ di Akhirat kelak. Alloh ﷻ berfirman:

﴿إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ﴾

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Alloh adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurot: 13)

Bahkan orang-orang beriman akan saling bertemu di Surga, terutama yang ia cintai di dunia. Bahkan bertemu sebelum di Surga, yaitu di Barzakh.

Baca: 

  1. Bertemunya Arwah Mu’minin di Barzakh - Nor Kandir

  2. Kitab Ar-Ruh - Ibnu Qoyyim (751 H)

[3] Pahala Pengasuhan dan Pendidikan Kebaikan

Laki-laki yang selama ini dikenal sebagai Abah telah merawat, mendidik, dan membimbing saudari penanya dengan penuh kasih sayang dan ajaran kebaikan. Meskipun secara hukum syariat ia bukan ayah kandung secara nasab, segala bentuk kebaikan, pendidikan agama, dan bimbingan amal sholih yang ia berikan bernilai pahala yang besar di sisi Alloh ﷻ. Setiap kali ia mengajarkan kebaikan kepada anak asuhnya, ia mendapatkan pahala yang mengalir. Rosululloh ﷺ bersabda:

«مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ»

“Barangsiapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim no. 1893)

Perbuatan mulia Abah yang merawat anak tersebut dengan penuh tanggung jawab dan kasih sayang merupakan bentuk ihsan yang agung. Alloh ﷻ menjanjikan balasan terbaik bagi siapa saja yang berbuat ihsan dalam hidupnya. Alloh ﷻ berfirman:

﴿هَلْ جَزَاءُ الإِحْسَانِ إِلا الإِحْسَانُ﴾

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula.” (QS. Ar-Rohman: 60)

[4] Amal Sholih yang Bermanfaat untuk Orang Tua yang Telah Meninggal Dunia

Setelah Abah meninggal dunia, hubungan kebaktian dan cinta tidak terputus begitu saja. Seseorang yang telah berjasa mendidik dan merawat dengan penuh kasih sayang berhak mendapatkan doa dan kebaikan dari orang yang pernah diasuhnya. Terlebih lagi, amalan seorang hamba yang sholih dan sholihah akan terus mengalirkan kebaikan kepada orang yang pernah mendidiknya dalam kebaikan. Rosululloh ﷺ bersabda:

«إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»

“Apabila anak adam meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari 3 perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak sholih yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)

Selain doa yang tulus dalam setiap Sholat, saudari penanya dapat melakukan berbagai amal sholih atas nama Abah untuk mengirimkan pahala kepadanya, seperti bersedekah, membangun fasilitas kebaikan, atau melaksanakan ibadah sosial yang bermanfaat. Rosululloh ﷺ pernah bersabda ketika ditanya tentang seseorang yang ingin bersedekah atas nama orang yang telah wafat: “Ya (bersedekahlah untuknya).” (HR. Al-Bukhori no. 1388 dan Muslim no. 1004)

Sedekah yang dilakukan oleh seseorang untuk orang yang telah meninggal dunia memberikan manfaat dan pahalanya sampai kepada mayit tersebut berdasarkan kesepakatan para ulama.

Baca: Menghadiahkan Pahala Amal Untuk Mayit Muslim - Prof. Dr. Muhammad Al-Furoih

[5] Mengimani Takdir dengan Ridho

Setiap ketentuan yang terjadi di masa lalu, betapapun pahitnya, merupakan takdir yang telah digariskan oleh Alloh ﷻ dengan hikmah yang agung. Menerima takdir dengan kelapangan dada dan ridho adalah buah dari keimanan yang kokoh. Masa lalu yang kelam tidak menutup pintu masa depan yang cerah untuk meraih ridho Alloh ﷻ. Alloh ﷻ berfirman:

﴿مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ﴾

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Alloh.” (QS. Al-Hadid: 22)

[6] Harapan Besar kepada Rohmat Alloh ﷻ

Jangan pernah berputus asa dari rohmat Alloh ﷻ. Penyesalan atas masa lalu dan tekad kuat untuk berhijroh secara total adalah modal utama seorang hamba untuk mendapatkan ampunan dan kasih sayang-Nya. Alloh ﷻ membuka pintu taubat seluas-luasnya bagi siapapun yang ingin kembali kepada jalan yang benar. Alloh ﷻ berfirman:

﴿قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ﴾

“Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rohmat Alloh. Sesungguhnya Alloh mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Zumar: 53)

Penutup

Semoga penjelasan ini memberikan ketenangan jiwa, menghilangkan keraguan, serta meneguhkan langkah saudari penanya dalam menempuh jalan hijroh dan amal sholih. Teruslah berbuat baik, mendoakan kebaikan bagi Abah yang telah merawat dengan penuh kasih sayang, dan berharaplah hanya kepada rohmat Alloh ﷻ. Semoga kelak Alloh mengumpulkan hamba-hamba-Nya yang beriman di dalam Jannah-Nya yang penuh nikmat.

—Dijawab oleh Ustadz Nor Kandir, MA
Mahasiswa S3 Islamic University of Minnesota

Artikel Terkait