← Kembali ke beranda
Almanhaj.or.id ↗

Pengertian I’tikaf

24 Maret 2023 · 2 menit baca

Artikel ini bersumber dari Almanhaj.or.id. Hak cipta sepenuhnya milik penulis dan Almanhaj.or.id.

PENGERTIAN I’TIKAF

  1. I’tikaf dari segi bahasa bermakna menetap pada sesuatu atau menghabiskan waktu untuk sesuatu atau dengan bahasa sekarang disebut at-tafarrugh lahu (mencurahkan waktu untuknya).

Tashrifnya dari يَعْكِفُ – عَكَفَ (huruf kaf boleh didhammahkan dan boleh juga dikasrahkan), مُعْتَكِفٌ – اِعْتِكَافٌ –  عَاكِفٌ

  1. I’tikaf menurut syari’at bermakna: menetapnya seorang muslim yang berakal dan baligh di dalam satu masjid dengan niat i’tikaf untuk waktu tertentu, sebagaimana akan datang rinciannya, insya Allah.

Dalam beberapa ayat al-Qur-an al-Karim tercantum kata i’tikaf yang menunjukkan satu arti, yaitu menetap pada sesuatu atau menghabiskan waktu untuknya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاَتَوْا عَلٰى قَوْمٍ يَّعْكُفُوْنَ عَلٰٓى اَصْنَامٍ لَّهُمْ

“…Maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka…”  [Al-A’raaf/7: 138]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang ucapan Nabi Musa Alaihissallam kepada Samiri:

وَانْظُرْ اِلٰٓى اِلٰهِكَ الَّذِيْ ظَلْتَ عَلَيْهِ عَاكِفًا

“…Lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya…  [Thaahaa/20: 97]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang ucapan Ibrahim Alaihissallam:

اِذْ قَالَ لِاَبِيْهِ وَقَوْمِهٖ مَا هٰذِهِ التَّمَاثِيْلُ الَّتِيْٓ اَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُوْنَ

“(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, ‘Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?’” [Al-Anbiyaa’/21: 52]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang ucapan Bani Israil:

قَالُوْا لَنْ نَّبْرَحَ عَلَيْهِ عٰكِفِيْنَ حَتّٰى يَرْجِعَ اِلَيْنَا مُوْسٰى 

“Mereka menjawab, ‘Kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami.’” [Thaahaa/20: 91]

Adapun yang tercantum dalam al-Qur-an al-Karim dengan lafazh i’tikaf dengan makna syar’i yakni menetap di dalam masjid, sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Ibrahim dan Ismail Alaihissallam:

اَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّاۤىِٕفِيْنَ وَالْعٰكِفِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ

“…Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud… [Al-Baqarah/2: 125]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kaum mukminin tentang adab dan syarat-syarat i’tikaf:

وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عَاكِفُوْنَۙ فِى الْمَسٰجِدِ

“…Janganlah kamu campuri mereka itu (isteri-isterimu), sedang kamu beri’tikaf dalam masjid…”  [Al-Baqarah/2: 187]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang Masjidil Haram:

وَالْمَسْجِدِالْحَرَامِ الَّذِيْ جَعَلْنٰهُ لِلنَّاسِ سَوَاۤءً ۨالْعَاكِفُ فِيْهِ وَالْبَادِ

“…Masjidil Haram yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir…” [Al-Hajj/22: 25]

Dikatakan bahwa maksud dari Masjidil Haram adalah kota Makkah dan maksud dari ‘Aakif adalah orang-orang yang bertempat tinggal di kota Makkah. Adapun maksud al-baad yaitu orang-orang yang datang dari negeri-negeri lain, kemudian kembali ke negerinya, wallaahu ‘alam.

[Disalin dari kitab Ad-Du’aa’ wal I’tikaaf, Penulis Syaikh Samir bin Jamil bin Ahmad ar-Radhi, Judul dalam bahasa Indonesia I’tikaf Menurut Sunnah yang Shahih, Penerjemah Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit  Pustaka Ibnu Katsir]

Artikel ini bersumber dari Almanhaj.or.id. Hak cipta sepenuhnya milik penulis dan Almanhaj.or.id.
Baca di Almanhaj.or.id ↗